Wednesday, 28 September 2016

Perbanyak Bekal dan Kebaikan

renungan di suasana sore hari jelang Maghrib,
Nabi Muhammad SAW pernah menggambarkan tentang hakikat kehidupan dunia dalam sabdanya:
Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat? (HR. Muslim no. 7126)
Jika kita menyadari ( sebenarnya sadar, hanya terkadang manusia terlena memungkiri , lupa ) bahwa hidup di dunia ini hanyalah sebentar saja, dan ada kehidupan abadi yang menunggu. “Kampung akhirat”, yang sering terlupakan dengan kesibukan dan fatamorgana dunia lainnya.

"Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat?" (HR Muslim).

Apa yang tersisa dari jari yang kita celupkan ke dalam lautan setelah kita angkat? Tidak lain hanyalah setetes air laut. Dan itulah perbandingan antara kehidupan dunia dan akhirat.

Jadi, mari kita menjadi hamba Allah yang cerdas, yang bisa menjadikan dunia ini untuk meraih kebahagiaan di negeri asli kita kelak, negeri Akhirat.
Sudahkah kita mempersiapkan perbekalan untuk  sampai kesana kesana?

Al-Mustaurid bin Syaddad berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat?” (HR. Muslim no. 7126).
Al-Imam An-Nawawi menerangkan, 
Makna hadits di atas adalah pendeknya masa dunia dan fananya kelezatannya bila dibandingkan dengan kelanggengan akhirat berikut kelezatan dan kenikmatannya, tidak lain kecuali seperti air yang menempel di jari bila dibandingkan dengan air yang masih tersisa di lautan.” (Al-Minhaj, 17/190).
Lihatlah demikian kecilnya perbendaharaan dunia bila dibandingkan dengan akhirat. Maka siapa lagi yang tertipu oleh dunia selain orang yang pandir, karena dunia tak kan dapat menipu orang yang cerdas dan berakal. (Bahjatun Nazhirin, 1/531).
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
















Manusia Yang Bermanfaat Bagi Orang Lain

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)
Menarik sekali, banyak tulisan yang membahas pentingnya menjadi pribadi yang bermanfaat. Mengapa banyak orang yang tertarik tentang bahasan ini, sebab ini salah satu perintah Rasulullah SAW kepada umatnya. Sabda beliau:
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain
Menjadi pribadi yang bermanfaat adalah salah satu karakter yang harus dimiliki oleh seorang Muslim. Seorang Muslim lebih diperintahkan untuk memberikan manfaat bagi orang lain, bukan hanya mencari manfaat dari orang atau memanfaatkan orang lain. Ini adalah bagian dari implementasi konsep Islam yang penuh cinta, yaitu memberi.
Setelah mengetahui manfaat “menjadi pribadi yang bermanfaat”, pertanyaanya adalah bagaimana caranya agar kita menjadi pribadi yang bermanfaat?

Langkah-langkah Menjadi Pribadi Yang Bermanfaat

“Menjadi Pribadi Yang Bermanfaat Adalah Kemauan
Kuncinya adalah kemauan, kemauan kita memberikan manfaat kepada orang lain. Jika kita punya harta, kita bisa memberikan manfaat kepada orang lain dengan harta. Jika kita punya ilmu, kita bisa memberikan manfaat ilmu kepada orang lain. Jika kita punya tenaga, kita bisa memberikan manfaat dari tenaga kita kepada orang lain.
Ini adalah langkah awal, Kita semua termasuk Saudaraku pembaca yang yang budiman, harus memiliki kemauan untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Bagaimana pun kondisinya. Jangan malah mencari-cari cara untuk mendapatkan manfaat dari orang lain bahkan memanfaatkan orang lain.
Jika kita mau, bagaimana pun kondisinya, Saudaraku bisa memberikan manfaat kepada orang lain.

Mau?? ….. (mau donk pastinya).